Monday, June 26, 2017

Dark
It's dark
It's painfully dark

It feels like I'm falling
and falling,
and falling...
into an endless pit of blackness

No hands
To reach out,
No ladder 
To climb on

It goes on
and on
and on,
What's on the end of this spiral?

Is this a spiral?
Or is this a labyrinth?
How do I figure out,
When my eyes see nothing
But gloom?

- Someone give me light (26/06 5:24 PM)

Monday, May 29, 2017

Saya adalah Kaum Hawa, dan Saya Muak

Aku adalah perempuan
Kaum hawa yang disebut-sebut lebih lemah daripada lelaki
Kaum hawa yang disebut-sebut diciptakan sebagai pendamping pria.

Tapi dengar ini:
Itu tidak berarti,

Gelap malam pertanda aku meminta,
Dan besar dada berarti aku menggoda;
Lekuk pinggangku untuk permainan jari-jari busukmu,
Dan selangkanganku semata untuk eksperimen birahimu;
Tawaku adalah anggukan setuju untuk menyetubuhiku,
Dan pakaianku adalah undangan untuk menyentuhku.

Kata mereka,
Wanita lebih lemah dari pria.
Dari sisi mana tanyaku?
Coba, siapa yang lebih lemah -
Seorang perempuan yang tak berdaya untuk memberontak,
Atau pria yang tak punya cukup
Iman, jiwa, nurani, otak - terserahlah apa itu sebutannya -
Untuk menahan nafsu menjijikannya?





*Tulisan ini merupakan tanggapan atas banyaknya kasus pelecehan seksual terhadap perempuan di berbagai negara yang dilakukan oleh, walaupun tidak hanya atau terbatas pada, pria-pria biadab yang tak beretika. Saya cukup berang membaca artikel-artikel ataupun video yang menyalahkan korban pelecehan/kekerasan seksual atas apa yang terjadi padanya, apapun alasannya. Yang lebih mirisnya lagi, sesama perempuan yang seharusnya saling bahu membahu melindungi satu sama lain malah ikut menyalahkan korban. Aparat keamanan pun seringkali tak membantu, membuat banyak korban memilih untuk bungkam. 
"Anda pakai baju apa?"
"Anda pulang jam berapa?"
"Anda mengundangnya masuk ke kamar?"

Pertanyaannya, memang mengapa? Apakah pakaian yang mungkin menunjukkan bagian-bagian tubuh tertentu menjustfikasi pelecehan? Apakah perempuan tidak boleh memiliki kebebasan yang sama dengan laki-laki untuk keluar di malam hari? Sampai kapan puluhan juta perempuan, dalam setiap langkahnya, harus berada di bawah bayang-bayang ketakutan atas keamanan dirinya sendiri? Bagi saya, seorang PSK pun, jika bukan atas persetujuannya seorang pria menyetubuhinya, itu adalah pemerkosaan. Pemerkosaan tidak pernah didasarkan pada apakah seseorang tersebut perawan atau bukan. 

DAN LAGI: Catcalling semacam siulan-siulan mesum adalah pelecehan. Mengambil foto perempuan di ruang publik tanpa seizinnya, kemudian diunggah ke media sosial untuk menjadi pemuas fantasi bagi orang-orang yang otaknya terletak pada alat kelaminnya, juga merupakan pelecahan seksual. Sunat terhadap anak-anak perempuan yang bahkan belum mengenal tubuhnya sendiri dengan mengatasnamakan tradisi atau kesucian, kemudian 'memaksanya' untuk menjalankan prosedur yang membahayakan nyawanya, tentu saja adalah bentuk pelecehan seksual. 


Jika anda tidak setuju, silahkan. Tapi coba renungkan, bila yang menjadi korban adalah anak perempuan anda. Apakah anda masih akan bersikukuh dengan pandangan anda dan mengatakan hal yang sama?

Friday, April 21, 2017

[Random Thought] Pt. 1

Pilihan hati seringkali tak beralasan
Sesekali menyejukkan,
Terkadang membingungkan,
Walau lebih sering memaksa hati tuk merelakan.

Ketika hati bertanya, siapa yang harus menjawab? // 21.04.17 9:16 PM

---------------------------------------------------------------------------------

Bukannya hati ini menyerah,
Bukan juga kehilangan arah
Hanya butuh istirahat sejenak,
Melepas rasa sesak.

Menyerah tidak semudah itu // 21.04.17 9:32 PM



Sunday, March 19, 2017

Oh, Palu-Palu Berdebu!

Hukum di negaraku bagai air
Mengalir tanpa arah dan ujung yang jelas
Arus dari segala penjuru beradu menyapu
Sedang tangan-tangan besar suka bermain di air keruh

Beribu kehausan
Datang dengan kerongkong kering
Menanti kiriman pelepas dahaga
Dari tangan-tangan yang tak pernah kering itu

Yang didapat bukanlah pelega
Seringkali hampa, sesekali malapetaka
Kerikil-kerikil sisa ampas dari genangan

Yang tersisa di hadapan

Friday, March 3, 2017

A Half-Cup of My Midnight Heart

I sit on top of the toilet, mind wandering to a place called nowhere. Toilet, I scoffed, only in my mind. My sacred peaceful place. Isn't that ironic? My peaceful place is not at some religious place, not even on someone's arm - but a place where people get rid of their bodily waste. I sighed.

'What if all of this turn up to be only such a waste of time? A waste of life? What if all this time, all I do is building a stairway to nowhere? What if, the future is as gray as it is right now?'

Then again, who can assure you that your dream is more than a pipe dream - an impossible, silly, childish, fictional, bullshit dream?

I don't understand how something so hopeful makes me feel so hopeless. I feel like a walking paradox. Those whispers of doubt are being played on repeat, by who I don't have the faintest idea.

'I wish I could meet you, and finally get to talk to your shadow.' 
That's what I would say.

Oh, jeez. I can feel it. I'm slowly losing my sanity. What would I say, you ask?

'Hey, nice to meet you. It'd be nice to knock the door first before you snuck into someone's mind, thank you. Anyway, now that you're here, are you there to keep me sane? And thank you for being there during my sleepless nights. I really appreciate the company.'

Now, now. I'm having an imaginary conversation with the demon hiding beneath the deepest part of my soul, rooted within me. Great.

Nevermind. Maybe we can chat over a cup of tea. Or coffee, if the night is long. Maybe then I will realize, a little doubt inside of you doesn't always harmful. Maybe, you need gravity so your balloons don't pop from the overpressure. Maybe, doubt is what helps you grow up. And maybe, some dreams, sadly, are not for everyone.



Sunday, February 5, 2017

Surat Tersirat untuk yang Terhormat, bagian 2 (Edited)

Kata-katamu bagai bumerang
Tak sadar dirimu yang kau serang
Kanan kiri kau coba goncang
Niatmu gamblang sudah terawang

Ke sana ke sini kau sibuk cari
Mengais-ngais rasa simpati
Sayang sejarah sudah terpatri
Prihatinmu tak lagi ada arti

Kau tabur bibit dinasti
Di atas fondasi tak berbukti
Jemarimu gatal beraksi
Sana sini kau tebar fantasi

Bukan waktumu lagi untuk ceriwis
Panggungmu sudah habis
Lebih baik melambai dengan manis
Daripada terlihat miris

Saturday, February 4, 2017

Surat Tersirat untuk yang Terhormat

Segala taktik kau lancarkan
Agama kau peralatkan
Kebenaran tak kau hiraukan
Bicara juga yang bukan-bukan

Katanya berintelek
Tapi pikiran tetap pendek
Ayolah coba melek
Buktikan niatmu tak pendek

Gelarmu tak ada artinya
Kalau bicara tak ada logika
Wibawamu sia-sia
Bila hanya rekayasa

Bhinneka Tunggal Ika
Kita sudah merdeka
Jangan beralasan etika
Demi puaskan hasarat kuasa