Aku adalah perempuan
Kaum hawa yang disebut-sebut lebih lemah daripada lelaki
Kaum hawa yang disebut-sebut diciptakan sebagai pendamping pria.
Tapi dengar ini:
Itu tidak berarti,
Gelap malam pertanda aku meminta,
Dan besar dada berarti aku menggoda;
Lekuk pinggangku untuk permainan jari-jari busukmu,
Dan selangkanganku semata untuk eksperimen birahimu;
Tawaku adalah anggukan setuju untuk menyetubuhiku,
Dan pakaianku adalah undangan untuk menyentuhku.
Kata mereka,
Wanita lebih lemah dari pria.
Dari sisi mana tanyaku?
Coba, siapa yang lebih lemah -
Seorang perempuan yang tak berdaya untuk memberontak,
Atau pria yang tak punya cukup
Iman, jiwa, nurani, otak - terserahlah apa itu sebutannya -
Untuk menahan nafsu menjijikannya?
*Tulisan ini merupakan tanggapan atas banyaknya kasus pelecehan seksual terhadap perempuan di berbagai negara yang dilakukan oleh, walaupun tidak hanya atau terbatas pada, pria-pria biadab yang tak beretika. Saya cukup berang membaca artikel-artikel ataupun video yang menyalahkan korban pelecehan/kekerasan seksual atas apa yang terjadi padanya, apapun alasannya. Yang lebih mirisnya lagi, sesama perempuan yang seharusnya saling bahu membahu melindungi satu sama lain malah ikut menyalahkan korban. Aparat keamanan pun seringkali tak membantu, membuat banyak korban memilih untuk bungkam.
"Anda pakai baju apa?"
"Anda pulang jam berapa?"
"Anda mengundangnya masuk ke kamar?"
Pertanyaannya, memang mengapa? Apakah pakaian yang mungkin menunjukkan bagian-bagian tubuh tertentu menjustfikasi pelecehan? Apakah perempuan tidak boleh memiliki kebebasan yang sama dengan laki-laki untuk keluar di malam hari? Sampai kapan puluhan juta perempuan, dalam setiap langkahnya, harus berada di bawah bayang-bayang ketakutan atas keamanan dirinya sendiri? Bagi saya, seorang PSK pun, jika bukan atas persetujuannya seorang pria menyetubuhinya, itu adalah pemerkosaan. Pemerkosaan tidak pernah didasarkan pada apakah seseorang tersebut perawan atau bukan.
DAN LAGI: Catcalling semacam siulan-siulan mesum adalah pelecehan. Mengambil foto perempuan di ruang publik tanpa seizinnya, kemudian diunggah ke media sosial untuk menjadi pemuas fantasi bagi orang-orang yang otaknya terletak pada alat kelaminnya, juga merupakan pelecahan seksual. Sunat terhadap anak-anak perempuan yang bahkan belum mengenal tubuhnya sendiri dengan mengatasnamakan tradisi atau kesucian, kemudian 'memaksanya' untuk menjalankan prosedur yang membahayakan nyawanya, tentu saja adalah bentuk pelecehan seksual.
Jika anda tidak setuju, silahkan. Tapi coba renungkan, bila yang menjadi korban adalah anak perempuan anda. Apakah anda masih akan bersikukuh dengan pandangan anda dan mengatakan hal yang sama?
No comments:
Post a Comment