Wednesday, January 27, 2016

Kenangan di Tengah Kehilangan

       Perlahan pandanganku menjadi kabur, menatap balik kehampaan di depanku. Ironi. Sungguh ironi. Kupandang foto itu lekat-lekat, jutaan tawa dan tangis melambai di angan-angan. Keceriaan tergambarkan di foto itu. Begitu penuh warna, begitu bermakna. Tidak ada kehampaan sedikitpun terlukiskan pada wajah kami. Namun sekarang, hanya kehampaan yang ada di hati, jiwa dan pikiran. Samar-samar aku masih bisa mendengar tawanya yang serasa begitu lepas, tanpa beban. Aku tersenyum kecil. Tapi kemudian air mata mulai menetes dari pelupuk mata ini. Dada ini seakan ditekan, disayat-sayat. Wajahnya yang selalu ceria menghantui pikiranku yang kosong. Wangi parfumnya yang khas sangat familiar di hidungku. Hampa terasa dunia ini tanpanya. 

       Dulu, pelukan hangatnya selalu terbuka lebar bagiku. Bisikan-bisikan nasihatnya terningiang di telingaku. Aku ingat semunya itu. Begitu jauh, namun terasa begitu dekat, begitu melekat. Aku mulai mempertanyakan kebijakkan Sang Waktu. Di mana rasa kasihanmu? 

       Kata orang kerinduan adalah seni indah dari masa lalu. Ingin aku membalas, tunjukkan padaku letak keindahan itu. Aku ingin tahu dimana gerangan ia berada, bersembunyikah di balik luka-luka yang terlalu dalam ini? Tunjukkan, tunjukkan padaku bahwa masih ada sepercik keindahan dalam perasaan tercabik-cabik ini.

No comments:

Post a Comment