Mata tertutup
Enggan mengintip
Dibutakan entah oleh apa,
Hati mengatup
Nurani telah raib
Dikaburkan entah oleh apa
Jemari tertunjuk
Pada engkau,
Engkau,
Dan engkau
Buatnya naik pitam
Elukan ‘jijik’ dan ‘keji’
Diseruduk tanduk hitam
Berakhir di balik jeruji
Sepasang tangan menutup telinga
Mulut tetap ternganga
Berkata-kata –
Kata tanpa makna
Isakan, tangisan, dan geraman
Layaknya angin sepoi tak ada arti
Termakan oleh buaian
Bagaikan tiada opsi
Upayakan segala cara
Dilayangkannya ke udara
Tangan terkepal kencang
Bisikan pun lantang
“Budayakan korupsi!” kata mereka.
No comments:
Post a Comment